Pemerintah mulai tahun 2016 mulai menggalakan Gerakan Literasi Sekolah
yang dikenal dengan GLS. Kegiatan yang secara umum dipahami sebagai kegiatan
membaca buku non pelajaran selama 10 – 15 menit sebelum kegiatan belajar mengajar
dimulai. Kegiatan ini tidak hanya dilakukan siswa tetapi seluruh warga belajar,
termasuk guru dan orang tua murid diharapkan mulai gemar membaca buku. Benar,
tujuan akhirnya adalah minat baca meningkat di masyarakat bukan hanya warga
sekolah.
GLS lahir karena dalam beberapa decade ini, Indonesia dianggap miskin
dalam hal gemar membaca. Ditambah dengan hadirnya gadget yang terus menggerus
generasi muda kita menjauh dari buku. Berikut beberapa penelitian yang
menunjukkan rendahnya minat baca bangsa Indonesia:
1. Hasil penelitian internasional, Programme for International
Student Assessment (PISA) tahun 2015 tentang kemampuan membaca siswa juga
menyebutkan bahwa kemampuan membaca siswa di Indonesia menduduki urutan ke-69
dari 76 negara yang disurvei. Hasil itu lebih rendah dari Vietnam yang
menduduki urutan ke-12 dari total negara yang disurvei.
2. Berdasarkan data Bank Dunia Nomor 16369-IND dan studi
IEA (International Association for the Evaluation of Education Achicievement),
untuk kawasan Asia Timur, Indonesia memegang posisi terendah
dengan skor 51,7, dibawah Filipina dengan skor 52,6. Data lainnya
dari UNDP, angka melek huruf orang dewasa Indonesia hanya 65,5 persen (pada tahun 2013,
kompasiana 5/04/2013).
3. Pada tahun 2002, Penelitian Human Development Index (HDI)
yang dirilis UNDP menyebutkan, melek huruf Indonesia berada
di posisi 110 dari 173 negara. Posisi tersebut turun satu tingkat menjadi
111 di tahun 2009. Pada tahun 2006 berdasarkan studi lima
tahunan bertajuk Progress in International Reading Literacy
Study (PIRLS) yang melibatkan siswa sekolah dasar (SD),
Indonesia menempati posisi 36 dari 40 negara. Pada tahun
2006 berdasarkan data Badan Pusat Statistik menunjukan,
masyarakat Indonesia belum menjadikan kegiatan membaca sebagai sumber
utama mendapatkan informasi. Masyarakat lebih memilih menonton televisi
(85,9%), mendengarkan radio (40,3%) daripada membaca koran (23,5%).
4. Pada tahun 2009 berdasarkan data yang dilansir Organisasi
Pengembangan Kerja sama Ekonomi (OECD), budaya baca masyarakat
Indonesia menempati posisi terendah dari 52 negara di kawasan Asia Timur. Tahun
2011 berdasarkan survei United Nations Educational, Scientific and
Cultural Organization (UNESCO) rendahnya minat baca ini, dibuktikan
dengan indeks membaca masyarakat Indonesia hanya 0,001 (dari seribu penduduk,
hanya ada satu orang yang masih memiliki minat baca tinggi).
5. Pada
tahun 2012 Indonesia nangkring di posisi 124 dari 187 Negara dunia dalam
penilaian Indeks Pembangunan Manusia (IPM), khususnya terpenuhinya kebutuhan
dasar penduduk, termasuk kebutuhan pendidikan, kesehatan dan ‘melek
huruf’. Indonesia sebagai Negara berpenduduk 165,7 juta jiwa lebih, hanya
memiliki jumlah terbitan buku sebanyak 50 juta per tahun. Itu artinya,
rata-rata satu buku di Indonesia dibaca oleh lima orang.
Dari hasil penelitian beberapa lembaga dunia di atas, dapat disimpulkan
betapa rendahnya minat baca bangsa kita. Ini sangat memprihatinkan karenanya
pemerintah melalui kementrian pendidikan mulai menggalakan Gerakan Literasi di tingkat
sekolah.
Dari beberapa laporan, sekolah, terutama yang telah menerapkan Kurikulum
2013 tampak rutin melakukan pembiasaan membaca ini. Bahkan beberapa daerah
telah mulai pada tahap pengembangan. Jadi, tidak sekedar membaca tapi lebih
kepada kegiatan literasi itu sendiri. Sesungguhnya literasi bukan hanya
kegiatan membaca saja.
Pengertian
literasi secara sempit adalah kemampuan membaca, namun kemudian ditambahkan
juga dengan kemampuan menulis. Literasi berasal dari bahasa latin yaitu littera yang berarti
huruf sehingga pada mulanya literasi diartikan pada pemahaman huruf berupa
membaca dan menulis. Pada abad pertengahan di benua eropa, sebutan literatus ditujukan kepada orang yang dapat
membaca, menulis dan bercakap-cakap dalam bahasa Latin. Namun, Deklarasi Praha pada tahun 2003 menyebutkan bahwa literasi
juga mencakup bagaimana seseorang berkomunikasi dalam masyarakat. Literasi juga
bermakna praktik dan hubungan sosial yang terkait dengan pengetahuan, bahasa,
dan budaya (UNESCO, 2003).
Pentingnya mengembangkan kegitan
literasi adalah kebermaknaan literasi untuk menemukan, menciptakan, dan
mengubah budaya ke arah yang lebih tinggi lagi sehingga dapat membentuk
peradaban maju sebuah bangsa. Sadar akan hal tersebut, maka tentu buku merupakan
bahan wajib yang harus terpenuhi. Bagaimana mungkin kita berliterasi kalau
tidak ada sumber bacaan.
Buku saat ini sudah berkembang dari
yang berbentuk cetak menjadi digital. Namun, perkembangannya masih dirasakan
sangat lambat terkecuali sastra. Buku pengayaan atau penunjang untuk siswa
sekolah sangat minim. Hampir seluruh sekolah di Indonesia hanya mengandalkan
buku pelajaran dalam pembelajaran. Kalau kita bandingkan dengan negara lain,
kita sangat tertinggal. Seorang siswa hendaknya memiliki satu atau dua buku
penunjang selain buku pelajaran untuk tiap mata pelajaran. Sehingga di rumah
mereka dapat memperdalam materi yang sedang dipelajari.
Hal ini berakibat pada pelaksanaan
GLS, masih terlihat anak-anak lebih banyak membaca buku cerita atau sastra berupa
cerita-cerita rakyat dan novel terutama dalam mengisi kegiatan GLS. Walau di
beberapa sekolah terlihat sudah mulai membaca buku yang bersifat pengetahuan
umum atau keagamaan, jumlahnya masih sangat sedikit. Buku pengetahuan umum pun
seharusnya lebih menunjang pembelajaran sehingga waktu baca mereka lebih
bermakna dan materi pembelajaran dapat lebih berkembang.
Dari sini, seharusnya kita mulai
menata GLS untuk membentuk siswa yang unggul dan literat. Jangan sampai mereka
akhirnya terlena dengan cerita fiksi yang tidak terlalu sekait dengan tujuan
pembelajaran. Kalaulah boleh membaca fiksi menjadi hiburan dikala penat, bukan
saat proses pembelajaran (GLS ada di jam anak sekolah).
Kendalanya adalah jumlah buku yang
sulit di dapat. Bukan hanya mahal, jumlahnya sangat terbatas atau boleh
dikatakan miskin. Kementrian Pendidikan khususnya harus melihat kebutuhan ini.
Sehingga segera membuat kebijakan untuk pemenuhan buku pengayaan atau penunjang
yang berkualitas. Ketika anak, mulai mempelajari topik atau materi mereka
memiliki sumber bacaan yang relevan.
Memang sudah banyak buku digital,
tapi buku digital seharusnya melalui proses seleksi yang ketat. Buku cetak saja
banyak yang kecolongan dalam hal isinya, apalagi buku digital. Sementara itu,
negara kita yang begitu luas penggunaan digital masih sangat awam. Jangan
sampai mengenaralisasi keadaan sekolah dengan hanya melihat keadaan di
kota-kota besar saja.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar