Pagi
ini saya membaca sebuah artikel menarik berjudul “Mengapa Banyak Orang Tetap
Bodoh Walau Membaca Buku” oleh Nadya Karima (Essais dari Pengamat Masalah
Sosial). Dalam artikel tersebut berisi kritik terhadap pembaca buku saat ini. Ia
menggambarkan bahwa masyarakat kita saat ini, karena banyak survey oleh
pelbagai lembaga yang menyatakan rendahnya tingkat literasi, mendorong berbagai
pihak dalam berbagai upaya agar gemar membaca. Literasi baru sebatas membaca
buku dan buku.
Saya
pun teringat teman saya, Agus Wartono (guru SDN Kalijaga Permai Kota Cirebon),
yang mengulas pernyataan Taufik Ismail (sastrawan) tentang nol buku: bangsa
yang rabun membaca dan lumpuh menulis. Dalam penelitian yang dilakukannya, digambarkan
betapa bangsa Indonesia sama sekali tidak ada, sekali lagi, tidak ada “Buku sastra
yang wajib dibaca oleh anak-anak SMA”. Penelitian yang dilakukan sekitar tahun
1997 tersebut, menempatkan negara kita dalam peringkat paling bawah dari sisi
buku yang wajib dibaca dibandingkan negara-negara lain, dengan nilai nol buku. Makalah
tersebut juga menggambarkan bagaiman dulu saat zaman AMS (SMA masa kolonial),
setiap siswa wajib membaca 25 buku sastra dan 108 karangan selama tiga tahun.
Tapi sejak tahun 1950, kewajiban itu dihilangkan karena kewajiban belajar
sastra dianggap tidak perlu.
Membandingkan
dua artikel di atas, saya melihat ada kegelisahan terhadap fenomena literasi di
negara kita. Pertama, menurut Nadya, ketika minat baca mencuat dengan berbagai
program literasi oleh pemerintah ataupun non pemerintah, industri buku mulai
melihat fenomena ini menjadi peluang bisnis. Pelaku industri buku
berlomba-lomba menerbitkan buku untuk kebutuhan kegiatan membaca. Adakah yang
salah? tidak! Hanya ada yang terlupa dari pemahaman literasi kita. Ya, literasi
seharusnya diartikan kegiatan membaca, menulis, dan berpikir kritis. Keterampilan
menulis dan berpikir kritis belum tersentuh. Mengapa? Karena buku yang
ditawarkan industri tersebut adalah buku-buku hiburan yang mensyaratkan pesan
moral tertentu, mimpi-mimpi, motivasi tokoh, dan imajinasi-fantasi yang
membuai.
Sementara,
Taufik Ismail, menyoroti mengenai buku sastra dan menulis karangan. Dengan
kegiatan membaca wajib sastra dan menulis karangan dari hasil membaca,
diharapkan masyarakat Indonesia, khususnya kaum terpelajar dapat kritis dan
produktif. Bukan semata-mata menghasilkan sastrawan tapi seperti yang kita tahu
berbagai profesi saat ini haruslah memiliki pengetahuan luas, inovatif,
kreatif, dan kritis. Hal ini tak akan terwujud, jika kaum terpelajar kita
rendah membaca dan menulis.
Budaya
membaca memang perlu kita tingkatkan tapi kita tidak boleh melupakan kualitas
buku. Dengan membaca buku yang berkualitas dan memancing pembacanya berpikir
kritis barulah generasi kita ini menjadi generasi maju. Salah satu ciri peradaban
maju adalah masyrakatnya kritis dalam berbagai permasalahan. Seperti tontonan di
televisi akhir-akhir ini. Jika tontonan yang hanya untuk menghibur, bisa
dipastikan tak ada manfaat untuk menambah pengetahuan kita. Kalaupun ada pesan
moral, hanyalah embel-embel yang dipaksakan. Begitu juga dengan nasib buku.
Sudah
saatnya, literasi kita sekarang tak hanya membaca. Tapi mengaplikasikan buku
bacaan dengan kegiatan diskusi dan menulis hasil membaca. Diharapkan kemudian,
para pelajar kita nanti ketika masuk ke jenjang lebih tinggi menghasilkan
karya-karya ilmiah yang merdu dan lancar. Tak lupa, pembelajaran sastra juga
dapat menghaluskan hati dan meneduhkan jiwa anak-anak kita. Pada akhirnya
muncul generasi yang kritis, santun, dan berbudi pekerti luhur. (KS/AR)
Ditulis oleh : Andhi Rachman (Kebun Segitiga)
sumber:
sumber:
https://www.dw.com/id/mengapa-banyak-orang-tetap-bodoh-walau-membaca-buku/a-44253209
Ismail, Taufik. "Bangsa yang Rabun Membaca dan Lumpuh Menulis." Makalah Disampaikan dalam Kongres Bahasa Indonesia VIII. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa (1998)
