![]() |
| Ayo Menulis, Bung! |
Menulis itu susah! Yakin?
Jika yakin kegiatan menulis itu susah maka coba kalian baca ini! Hari ini tidak
ada aktifitas yang tidak diawali dengan menulis. Kalian yang sudah kenal dengan
media sosial tentu tidak akan lepas dari menulis. Entah itu sebuah kata, frasa,
ujaran, kalimat, atau bahkan curahan hati. Jenis yang terakhir ini bisa sangat
panjang kalian tulis. Ya... benar menulis status itu adalah aktifitas menulis.
Oh bukan itu
maksudnya! Lantas? Menulis yang kalian pikir susah itu apa? Menulis artikel?
Opini? atau feature? Mungkin menulis
yang serius barangkali, ya? Emmm... sebetulnya menulis seperti ini juga tidak
terlalu susah, kok! Hanya perlu latihan saja. Membaca bisa menjadi salah satu
awal yang baik. Dengan membaca, kalian berarti mulai menambah kata, informasi,
dan bahan tulisan. Jadi, menulis itu bukan hanya faktor bakat melainkan
keseriusan seseorang untuk mewujudkan gagasannya dalam tulisan.
Ah apa manfaatnya?
Menulis dengan baik sangat banyak manfaatnya, kok. Berikut beberapa manfaat menulis
yang diungkapkan Agustina Subachman dalam bukunya Mahir Menulis dalam 4 Hari:
1.
Mencegah kepikunan
2.
Instrumen perekam jejak sejarah
3.
Instrumen menjaga ilmu, pendapat, pemikiran,
opini, dan argumen dari keraiban, serta untuk menyebarkan secara luas
4.
Media dakwah yang sangat bermanfaat,
5.
Media belajar
6.
Produktifitas dalam hidup
7.
Membentuk pribadi yang bijak dan santun
8.
Menghasilkan ide-ide baru
9.
Media komunikasi terbaik
10. Melatih
diri untuk siap dikritik dan dievaluasi oleh orang lain, serta untuk terbiasa
memecahkan masalah
Wah, banyak sekali!
Nah, baru tahu, ‘kan? Hehehe... ternyata dengan menulis kita bisa mencegah
kepikunan, loh! Kok bisa? Ternyata
saat kita menulis dengan baik, kita akan berusaha untuk mengolah informasi yang
ada di dalam otak. Pemrosesan ini memicu otak bekerja keras. Otak yang cepat
pikun adalah otak yang rendah aktifitasnya. Bayangkan saat kita menulis! Betapa
kerasnya otak kita bekerja. Ia mengolah data yang ada di sel-sel memori,
menangkap rangsangan dari hasil membaca dan menyimak, serta pengolahan dalam
menghasilkan kalimat yang diinginkan. Inilah salah satu cara mengasah otak yang
efektif, menulis!
Beberapa penulis seperti saya misalnya, ingin agar rekam
jejak atau memoar kehidupan kita bisa abadi. Hal ini dapat diwujudkan dengan
tulisan yang kita buat. Peristiwa yang menjadi episode kehidupan kita, perasaan
bahagia, mendapatkan anugerah, tragedi sekalipun. Tentu ada yang ingin kita
kenang. Berbeda dengan foto, tulisan lebih mengungkapkan detail peristiwa itu.
Jangan salah, bisa jadi itu menjadi inspirasi orang lain loh!
Apalagi tulisan yang
kita buat bisa disebarluaskan?---tulisan yang memiliki makna positif dan
menggugah pastinya, bukan Hoax. Ilmu
yang berkembang dari abad ke abad, masa ke masa, dapat diungkap dari tulisan.
Aksara kuno di berbagai penjuru dunia dapat mengungkap sejarah manusia dan
budaya pada masa-masa lampau. Prasasti, tugu peringatan, bahkan makam yang
dibubuhi tulisan menjadi harta karun untuk manusia zaman ini. Kejadian-kejadian
lalu dapat terungkap. Namun, tidak hanya masa lalu yang dapat diungkap, masa
yang akan datang pun bisa di’ramal’kan. Alam selalu mempunyai pola yang teratur
karena diatur oleh Maha Teliti. Untuk kita saat ini, tulisan harus menjadi alat
penyimpan peristiwa, sehingga anak-cucu kita bisa belajar dari masa sekarang.
Tidak semua orang mempunyai waktu untuk pergi ke pengajian,
mendengarkan para pendakwah. Tak heran tulisan menjadi salah satu media dakwah untuk
sampai ke tempat-tempat tak terbatas. Banyak pendakwah yang membuat buku saat
ini. Beberapa diantaranya memang kurang menguasai bicara di muka umum tapi baik
dalam menulis. Bahkan berdakwah melalui novel yang lebih mengena bagi pembaca
yang tidak menyukai hal-hal berat. Buku cerita untuk anak-anak usia belia yang
suka gambar dan cerita. Buku-buku ini selain bisa dibaca kapan saja, pun dapat
menghadirkan suasana yang lebih nyaman bagi para pencari hikmah.
Sebagai sarana
belajar? Harusnya pertanyaan ini tak perlu diungkap lagi. Sudah jelas
pembelajar membutuhkan buku sebagai salah satu sumber informasi. Sepertinya sulit
membayangkan sekolah tanpa buku. Sama sulitnya membayangkan bermain komputer
tanpa listrik atau melihat tanpa cahaya. Sumber energi belajar adalah buku itu
sendiri.
Seorang penulis itu
produktif? Pasti di antara kalian ada yang membayangkan seorang penulis itu
pengangguran yang tidak ada kerjaan. Bisa jadi ada yang membayangkan mereka
hanyalah kumpulan orang-orang malas, bisanya duduk di depan komputer—mesin ketik
kalau zaman 80-90an. Hanya duduk-duduk untuk memainkan tinta di atas kertas. Produktivitas
hidupnya, rendah! Eits.... tunggu dulu! Siapa bilang? Menulis merupakan suatu
pekerjaan yang sangat tinggi produktivitasnya. Seorang penulis menghabiskan
waktunya untuk menggali kemampuan diri, pengetahuan, dan arus informasi yang
sangat cepat saat ini. Proses ini membutuhkan waktu tambahan yang luar biasa. Apalagi
penulis yang memiliki pekerjaan tetap lain. Seorang dokter penulis, guru
penulis, karyawan penulis, mahasiswa penulis, pelajar penulis, ibu-ibu penulis,
dan masih banyak lagi. Ia membutuhkan waktu tambahan untuk kegiatan mencari
bahan, riset, dan belajar menulis yang baik tentunya. Jadi, menulis itu
merupakan sebuah kegiatan yang sangat produktif, loh!
Seorang penulis itu
anti sosial! Masa? Penulis yang baik justru sangat ingin bersosialisasi
dengan para pembacanya. Ia akan sangat terbuka dengan tanggapan dan kritik agar
kemampuannya terus meningkat. Dulu, ketika saya membuat suatu cerita lalu
dibaca oleh beberapa teman. Banyak yang menanggapi dan berkomentar, beberapa
diantaranya adalah kritikkan pedas. Ini membuat saya terus belajar dan membaca
kembali bagaimana caranya menulis cerita dengan baik. Ingat ketika tulisan kita
tersebar, ragam karakter manusia akan membacanya. Tidak semua memiliki
pandangan yang sama, bahkan bisa jadi berlawanan dan menolak gagasan kita. Ini dapat
menjadi instrumen untuk memperbaiki diri dan bersikap bijak. Tapi jika penulis
itu menolak semua kritikan dan penolakan. Ia akan tenggelam ditinggalkan para
pembacanya.
Bagaimana bisa
menulis itu dapat menghasilkan ide-ide baru? Hei... Hallo! Menulis itu butuh
gagasan atau ide yang segar (kecuali kalian adalah anggota klub plagiat).
Intinya menulis, ya gagasan! Tidak akan terjadi sebuah tulisan tanpa adanya
gagasan Sang Penulis. Menulis status di media sosial juga lahirnya dari
gagasan, kok! Misalkan, kemarin saya makan di rumah makan G****a. Terus ‘terpikir’
untuk membagikan ke teman-teman dengan keterangan, “Makan siang enak! Ini makan
siangku, mana makan siangmu?”. Keterangan tadi pasti lahir dari sebuah pemikiran,
inilah ide. Jadi, menulis seuatu pasti butuh gagasan. Jika ingin tulisanmu
dibaca banyak orang tentu butuh gagasan-gagasan baru yang menarik. Ini butuh
kepekaan sosial yang tinggi.
Banyak loh, ketika
kita menulis di media sosial orang menjadi salah paham sampai bertengkar! Menulis
adalah satu hal, menjadi pembaca yang baik adalah hal berikutnya. Komunikasi
pada buku, artikel, rubrik, dan produk tulisan lainnya merupakan komunikas
antara penulis dan pembaca. Jika menulis di media sosial sangat mungkin terjadi
komunikasi dua arah antara penulis-pembaca. Inilah mengapa ketika kita menulis
di media sosial menghindari pelanggaran ITE. Hal tersebut bisa menyebabkan
ketersinggungan pembaca dan mengakibatkan konflik (seringnya luas dan lebar-red).
Tapi walaupun demikian tulisan tetaplah alat komunikasi yang efektif. Lihatlah
iklan pariwara, promosi partai dan bakal calon legislatif, iklan layanan
masyarakat dari pemerintah, dan sebagainya bertebaran dalam bentuk media
tulisan. Mengapa? Ini lebih murah dibandingkan dan menjangkau luas dibandingkan
media yang lain.
Tapi yang paling penting dari semua itu, sebuah tulisan
bisa menjadi solusi masalah. Tujuan paling tinggi dari menulis, bisa menjadi
manfaat untuk pembaca. Maka, ayo mulailah menulis dengan niat dan prasangka
yang baik. Terus berlatih dan lapang dada menerima saran serta kritik. Memang
benar sebuah tulisan mempunyai takdirnya sendiri untuk sampai ke pembaca.
Selama niat itu baik dan dilakukan dengan cara terbaik, maka kita menjadi insan
yang paling bermanfaat bagi yang lain. Sekarang ambil alat tulismu, ketikkan
gawaimu, dan menulislah. Apapun! Puisi, cerita, artikel, opini, karya ilmiah, atau
curahan hati. Walau sekedar huruf A, nanti menjadi “aku”, setelah itu menjadi “aku
bisa”, terakhir menjadi “aku bisa bermanfaat bagi orang lain”!
