Selasa, 23 Januari 2018

Ayo Menulis, Bung!!!

Ayo Menulis, Bung!
Menulis itu susah! Yakin? Jika yakin kegiatan menulis itu susah maka coba kalian baca ini! Hari ini tidak ada aktifitas yang tidak diawali dengan menulis. Kalian yang sudah kenal dengan media sosial tentu tidak akan lepas dari menulis. Entah itu sebuah kata, frasa, ujaran, kalimat, atau bahkan curahan hati. Jenis yang terakhir ini bisa sangat panjang kalian tulis. Ya... benar menulis status itu adalah aktifitas menulis.

Oh bukan itu maksudnya! Lantas? Menulis yang kalian pikir susah itu apa? Menulis artikel? Opini? atau feature? Mungkin menulis yang serius barangkali, ya? Emmm... sebetulnya menulis seperti ini juga tidak terlalu susah, kok! Hanya perlu latihan saja. Membaca bisa menjadi salah satu awal yang baik. Dengan membaca, kalian berarti mulai menambah kata, informasi, dan bahan tulisan. Jadi, menulis itu bukan hanya faktor bakat melainkan keseriusan seseorang untuk mewujudkan gagasannya dalam tulisan.

Ah apa manfaatnya? Menulis dengan baik sangat banyak manfaatnya, kok. Berikut beberapa manfaat menulis yang diungkapkan Agustina Subachman dalam bukunya Mahir Menulis dalam 4 Hari:
1.      Mencegah kepikunan
2.      Instrumen perekam jejak sejarah
3.      Instrumen menjaga ilmu, pendapat, pemikiran, opini, dan argumen dari keraiban, serta untuk menyebarkan secara luas
4.      Media dakwah yang sangat bermanfaat,
5.      Media belajar
6.      Produktifitas dalam hidup
7.      Membentuk pribadi yang bijak dan santun
8.      Menghasilkan ide-ide baru
9.      Media komunikasi terbaik
10.  Melatih diri untuk siap dikritik dan dievaluasi oleh orang lain, serta untuk terbiasa memecahkan masalah

Wah, banyak sekali! Nah, baru tahu, ‘kan? Hehehe... ternyata dengan menulis kita bisa mencegah kepikunan, loh! Kok bisa? Ternyata saat kita menulis dengan baik, kita akan berusaha untuk mengolah informasi yang ada di dalam otak. Pemrosesan ini memicu otak bekerja keras. Otak yang cepat pikun adalah otak yang rendah aktifitasnya. Bayangkan saat kita menulis! Betapa kerasnya otak kita bekerja. Ia mengolah data yang ada di sel-sel memori, menangkap rangsangan dari hasil membaca dan menyimak, serta pengolahan dalam menghasilkan kalimat yang diinginkan. Inilah salah satu cara mengasah otak yang efektif, menulis!

Beberapa penulis seperti saya misalnya, ingin agar rekam jejak atau memoar kehidupan kita bisa abadi. Hal ini dapat diwujudkan dengan tulisan yang kita buat. Peristiwa yang menjadi episode kehidupan kita, perasaan bahagia, mendapatkan anugerah, tragedi sekalipun. Tentu ada yang ingin kita kenang. Berbeda dengan foto, tulisan lebih mengungkapkan detail peristiwa itu. Jangan salah, bisa jadi itu menjadi inspirasi orang lain loh!

Apalagi tulisan yang kita buat bisa disebarluaskan?---tulisan yang memiliki makna positif dan menggugah pastinya, bukan Hoax. Ilmu yang berkembang dari abad ke abad, masa ke masa, dapat diungkap dari tulisan. Aksara kuno di berbagai penjuru dunia dapat mengungkap sejarah manusia dan budaya pada masa-masa lampau. Prasasti, tugu peringatan, bahkan makam yang dibubuhi tulisan menjadi harta karun untuk manusia zaman ini. Kejadian-kejadian lalu dapat terungkap. Namun, tidak hanya masa lalu yang dapat diungkap, masa yang akan datang pun bisa di’ramal’kan. Alam selalu mempunyai pola yang teratur karena diatur oleh Maha Teliti. Untuk kita saat ini, tulisan harus menjadi alat penyimpan peristiwa, sehingga anak-cucu kita bisa belajar dari masa sekarang.
Tidak semua orang mempunyai waktu untuk pergi ke pengajian, mendengarkan para pendakwah. Tak heran tulisan menjadi salah satu media dakwah untuk sampai ke tempat-tempat tak terbatas. Banyak pendakwah yang membuat buku saat ini. Beberapa diantaranya memang kurang menguasai bicara di muka umum tapi baik dalam menulis. Bahkan berdakwah melalui novel yang lebih mengena bagi pembaca yang tidak menyukai hal-hal berat. Buku cerita untuk anak-anak usia belia yang suka gambar dan cerita. Buku-buku ini selain bisa dibaca kapan saja, pun dapat menghadirkan suasana yang lebih nyaman bagi para pencari hikmah.

Sebagai sarana belajar? Harusnya pertanyaan ini tak perlu diungkap lagi. Sudah jelas pembelajar membutuhkan buku sebagai salah satu sumber informasi. Sepertinya sulit membayangkan sekolah tanpa buku. Sama sulitnya membayangkan bermain komputer tanpa listrik atau melihat tanpa cahaya. Sumber energi belajar adalah buku itu sendiri.

Seorang penulis itu produktif? Pasti di antara kalian ada yang membayangkan seorang penulis itu pengangguran yang tidak ada kerjaan. Bisa jadi ada yang membayangkan mereka hanyalah kumpulan orang-orang malas, bisanya duduk di depan komputer—mesin ketik kalau zaman 80-90an. Hanya duduk-duduk untuk memainkan tinta di atas kertas. Produktivitas hidupnya, rendah! Eits.... tunggu dulu! Siapa bilang? Menulis merupakan suatu pekerjaan yang sangat tinggi produktivitasnya. Seorang penulis menghabiskan waktunya untuk menggali kemampuan diri, pengetahuan, dan arus informasi yang sangat cepat saat ini. Proses ini membutuhkan waktu tambahan yang luar biasa. Apalagi penulis yang memiliki pekerjaan tetap lain. Seorang dokter penulis, guru penulis, karyawan penulis, mahasiswa penulis, pelajar penulis, ibu-ibu penulis, dan masih banyak lagi. Ia membutuhkan waktu tambahan untuk kegiatan mencari bahan, riset, dan belajar menulis yang baik tentunya. Jadi, menulis itu merupakan sebuah kegiatan yang sangat produktif, loh!

Seorang penulis itu anti sosial! Masa? Penulis yang baik justru sangat ingin bersosialisasi dengan para pembacanya. Ia akan sangat terbuka dengan tanggapan dan kritik agar kemampuannya terus meningkat. Dulu, ketika saya membuat suatu cerita lalu dibaca oleh beberapa teman. Banyak yang menanggapi dan berkomentar, beberapa diantaranya adalah kritikkan pedas. Ini membuat saya terus belajar dan membaca kembali bagaimana caranya menulis cerita dengan baik. Ingat ketika tulisan kita tersebar, ragam karakter manusia akan membacanya. Tidak semua memiliki pandangan yang sama, bahkan bisa jadi berlawanan dan menolak gagasan kita. Ini dapat menjadi instrumen untuk memperbaiki diri dan bersikap bijak. Tapi jika penulis itu menolak semua kritikan dan penolakan. Ia akan tenggelam ditinggalkan para pembacanya.

Bagaimana bisa menulis itu dapat menghasilkan ide-ide baru? Hei... Hallo! Menulis itu butuh gagasan atau ide yang segar (kecuali kalian adalah anggota klub plagiat). Intinya menulis, ya gagasan! Tidak akan terjadi sebuah tulisan tanpa adanya gagasan Sang Penulis. Menulis status di media sosial juga lahirnya dari gagasan, kok! Misalkan, kemarin saya makan di rumah makan G****a. Terus ‘terpikir’ untuk membagikan ke teman-teman dengan keterangan, “Makan siang enak! Ini makan siangku, mana makan siangmu?”. Keterangan tadi pasti lahir dari sebuah pemikiran, inilah ide. Jadi, menulis seuatu pasti butuh gagasan. Jika ingin tulisanmu dibaca banyak orang tentu butuh gagasan-gagasan baru yang menarik. Ini butuh kepekaan sosial yang tinggi.

Banyak loh, ketika kita menulis di media sosial orang menjadi salah paham sampai bertengkar! Menulis adalah satu hal, menjadi pembaca yang baik adalah hal berikutnya. Komunikasi pada buku, artikel, rubrik, dan produk tulisan lainnya merupakan komunikas antara penulis dan pembaca. Jika menulis di media sosial sangat mungkin terjadi komunikasi dua arah antara penulis-pembaca. Inilah mengapa ketika kita menulis di media sosial menghindari pelanggaran ITE. Hal tersebut bisa menyebabkan ketersinggungan pembaca dan mengakibatkan konflik (seringnya luas dan lebar-red). Tapi walaupun demikian tulisan tetaplah alat komunikasi yang efektif. Lihatlah iklan pariwara, promosi partai dan bakal calon legislatif, iklan layanan masyarakat dari pemerintah, dan sebagainya bertebaran dalam bentuk media tulisan. Mengapa? Ini lebih murah dibandingkan dan menjangkau luas dibandingkan media yang lain.

Tapi yang paling penting dari semua itu, sebuah tulisan bisa menjadi solusi masalah. Tujuan paling tinggi dari menulis, bisa menjadi manfaat untuk pembaca. Maka, ayo mulailah menulis dengan niat dan prasangka yang baik. Terus berlatih dan lapang dada menerima saran serta kritik. Memang benar sebuah tulisan mempunyai takdirnya sendiri untuk sampai ke pembaca. Selama niat itu baik dan dilakukan dengan cara terbaik, maka kita menjadi insan yang paling bermanfaat bagi yang lain. Sekarang ambil alat tulismu, ketikkan gawaimu, dan menulislah. Apapun! Puisi, cerita, artikel, opini, karya ilmiah, atau curahan hati. Walau sekedar huruf A, nanti menjadi “aku”, setelah itu menjadi “aku bisa”, terakhir menjadi “aku bisa bermanfaat bagi orang lain”!

Total Tayangan Halaman

Pubertas Pada Anak Perempuan

Tahukah kalian, anak perempuan mulai mengalami masa pubertas pada usia 9 sampai 13 tahun. Walaupun tidak semuanya karena ada juga yang telat...