Rabu, 15 Agustus 2018

Keresahan Buku dan Sastra Kita


Pagi ini saya membaca sebuah artikel menarik berjudul “Mengapa Banyak Orang Tetap Bodoh Walau Membaca Buku” oleh Nadya Karima (Essais dari Pengamat Masalah Sosial). Dalam artikel tersebut berisi kritik terhadap pembaca buku saat ini. Ia menggambarkan bahwa masyarakat kita saat ini, karena banyak survey oleh pelbagai lembaga yang menyatakan rendahnya tingkat literasi, mendorong berbagai pihak dalam berbagai upaya agar gemar membaca. Literasi baru sebatas membaca buku dan buku.
 
Saya pun teringat teman saya, Agus Wartono (guru SDN Kalijaga Permai Kota Cirebon), yang mengulas pernyataan Taufik Ismail (sastrawan) tentang nol buku: bangsa yang rabun membaca dan lumpuh menulis. Dalam penelitian yang dilakukannya, digambarkan betapa bangsa Indonesia sama sekali tidak ada, sekali lagi, tidak ada “Buku sastra yang wajib dibaca oleh anak-anak SMA”. Penelitian yang dilakukan sekitar tahun 1997 tersebut, menempatkan negara kita dalam peringkat paling bawah dari sisi buku yang wajib dibaca dibandingkan negara-negara lain, dengan nilai nol buku. Makalah tersebut juga menggambarkan bagaiman dulu saat zaman AMS (SMA masa kolonial), setiap siswa wajib membaca 25 buku sastra dan 108 karangan selama tiga tahun. Tapi sejak tahun 1950, kewajiban itu dihilangkan karena kewajiban belajar sastra dianggap tidak perlu.

Membandingkan dua artikel di atas, saya melihat ada kegelisahan terhadap fenomena literasi di negara kita. Pertama, menurut Nadya, ketika minat baca mencuat dengan berbagai program literasi oleh pemerintah ataupun non pemerintah, industri buku mulai melihat fenomena ini menjadi peluang bisnis. Pelaku industri buku berlomba-lomba menerbitkan buku untuk kebutuhan kegiatan membaca. Adakah yang salah? tidak! Hanya ada yang terlupa dari pemahaman literasi kita. Ya, literasi seharusnya diartikan kegiatan membaca, menulis, dan berpikir kritis. Keterampilan menulis dan berpikir kritis belum tersentuh. Mengapa? Karena buku yang ditawarkan industri tersebut adalah buku-buku hiburan yang mensyaratkan pesan moral tertentu, mimpi-mimpi, motivasi tokoh, dan imajinasi-fantasi yang membuai.

Sementara, Taufik Ismail, menyoroti mengenai buku sastra dan menulis karangan. Dengan kegiatan membaca wajib sastra dan menulis karangan dari hasil membaca, diharapkan masyarakat Indonesia, khususnya kaum terpelajar dapat kritis dan produktif. Bukan semata-mata menghasilkan sastrawan tapi seperti yang kita tahu berbagai profesi saat ini haruslah memiliki pengetahuan luas, inovatif, kreatif, dan kritis. Hal ini tak akan terwujud, jika kaum terpelajar kita rendah membaca dan menulis.

Budaya membaca memang perlu kita tingkatkan tapi kita tidak boleh melupakan kualitas buku. Dengan membaca buku yang berkualitas dan memancing pembacanya berpikir kritis barulah generasi kita ini menjadi generasi maju. Salah satu ciri peradaban maju adalah masyrakatnya kritis dalam berbagai permasalahan. Seperti tontonan di televisi akhir-akhir ini. Jika tontonan yang hanya untuk menghibur, bisa dipastikan tak ada manfaat untuk menambah pengetahuan kita. Kalaupun ada pesan moral, hanyalah embel-embel yang dipaksakan. Begitu juga dengan nasib buku.

Sudah saatnya, literasi kita sekarang tak hanya membaca. Tapi mengaplikasikan buku bacaan dengan kegiatan diskusi dan menulis hasil membaca. Diharapkan kemudian, para pelajar kita nanti ketika masuk ke jenjang lebih tinggi menghasilkan karya-karya ilmiah yang merdu dan lancar. Tak lupa, pembelajaran sastra juga dapat menghaluskan hati dan meneduhkan jiwa anak-anak kita. Pada akhirnya muncul generasi yang kritis, santun, dan berbudi pekerti luhur. (KS/AR)

Ditulis oleh : Andhi Rachman (Kebun Segitiga)
sumber:
https://www.dw.com/id/mengapa-banyak-orang-tetap-bodoh-walau-membaca-buku/a-44253209
Ismail, Taufik. "Bangsa yang Rabun Membaca dan Lumpuh Menulis." Makalah Disampaikan dalam Kongres Bahasa Indonesia VIII. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa (1998)



1 komentar:

  1. Memang benar dgn membaca akan membawa kita pada perubahan pola pikir , haruskan membuat komunitas membaca ,saya ingin sekali mrnciptakan komunitas membaca alquran pula.terimakasih atas masukannya

    BalasHapus

Total Tayangan Halaman

Pubertas Pada Anak Perempuan

Tahukah kalian, anak perempuan mulai mengalami masa pubertas pada usia 9 sampai 13 tahun. Walaupun tidak semuanya karena ada juga yang telat...